Kamis, 05 April 2012

Dunia tanpa batas dan paradigma transubstansiasi manusia


Dunia tanpa batas dan paradigma transubstansiasi manusia


Empat revolusi komunikasi

Menurut Harnad, Stevan dalam. "Post-Guttenberg Galaxy: The Fourth Revolution in the Means of Production of Knowledge” telah terjadi tiga buah revolusi dalam sejarah pemikiran manusia bila ditinjau dari konstruksi pengetahuan umat manusia, dan kini kita ada di ambang yang keempat. Yang pertama terjadi ribuan tahun yang lalu ketika bahasa pertama muncul dalam spesies homo sapiens ini. Yang kedua adalah ditemukannya tulisan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana pengetahuan manusia akan berkembang tanpa adanya bahasa tulisan. Invention dari tulisan dapat dipahami sebagai desakan dari naluri ummat manusia untuk menyempurnakan terus konstruksi maupun propagasi pengetahuan dengan cara yang lebih akurat dan masif kepada spesiesnya (yakni, homo sapiens).  Tapi ternyata tulisan pun belum memadai. Untuk menuliskan sesuatu ide kepada seribu kelompok manusia diperlukan waktu yang demikian lama. Sedangkan ide dan pemikiran manusia dapat bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari kecepatan cahaya. Pada detik ini kita berpikir tentang internet. Pada detik yang sama pula kita bisa berpikir tentang Galaksi Milky Way ataupun karya-karya Shakespeare. Ummat manusia, sebagai makhluk yang berakal-budi ; yang hakikatnya tak lain terletak dalam relung-relung keimanan, sifat spiritual maupun pengetahuannya memerlukan sesuatu yang lebih sofistik (baca pula; canggih) dalam menyampaikan, mengkomunikasikan, menyebarkan pengetahuannya baik pengetahuan praktis, teoritis, filosofis maupun religius. Maka, Guttenberg muncul dengan mesin cetaknya, dan memulai revolusi ketiga dalam sejarah tool konstruksi pengetahuan ummat manusia. Kini, teks-teks dapat didistribusikan dengan kecepatan yang amat tinggi; suatu kemajuan yang amat dramatik dibandingkan sebelumnya. Bilasanya transisi perubahan dari tradisi oral ke tulisan membuat komunikasi lebih reflektif dan individual dibandingkan pembicaraan langsung, mesin cetak membuat lebih dimungkinkan elemen interaktif  yang terjadi dalam evolusi pengetahuan, misalnya dengan jurnal-jurnal periodik. Nyatalah evolusi telah memberikan kepada kita keniscayaan kognitif dan teknologi sebagai kendaraannya.


Kita ada di ambang revolusi yang keempat. Sebelumnya telah ada temuan-temuan yang mengindikasikan tendensi kepada komunikasi yang lebih cepat, seperti halnya komunikasi oral namun menghilangkan berbagai batasan yang menghambat aliran pengetahuan ummat manusia. Sebagai contoh telefon. Atau telegraf untuk data-data teks. Contoh lain adalah mesin fotokopi dan faximile. Namun ternyata seluruh kemampuan-kemampuan pendukung konstruksi pengetahuan ini menyatu dalam suatu eksplosi yang merupakan big-bang kedua; yakni internet, lengkap dengan komunikasi elektromagnetooptis via satelit maupun kabel, yang didukung oleh eksistensi jaringan telefoni yang telah ada dan akan segera didukung pula oleh ratusan satelit yang sedang dan akan diluncurkan. Ummat manusia pasca revolusi keempat ini dapat berinteraksi oral maupun dengan teks dengan sangat interaktif; keseluruh penghujung dunia, tanpa sedikitpun kehilangan interaktifitasnya maupun sense “live” nya. Distribusi, propagasi dan menebarnya pengetahuan melalui internet maupun kodifikasi dan konstruksinya menjadi teramat eksplosif. Maka bila big-bang pertama di alam semesta material yang kita huni adalah material big bang dan terjadi di taraf eksistensi fisik semesta, big-bang kedua adalah knowledge big-bang dan terjadi di taraf eksistensi mental spesies homo-sapiens. Metafisika, dengan ontologi, kosmologi dan eskatologinya, mungkin memandang internet ini sebagai salah satu manifestasi keniscayaan alladzii kholaqo fasawwa,  bahwa Perancang Alam ini selalu menyempurnakan apa yang diciptakannya, termasuk di dalamnya manusia, menuju puncak kemanusiaannya.

Dunia tanpa batas
Realitas informasi tanpa batas (borderless information) adalah kesangathakikatan era informasi. Sumber-sumber informasi text, audio dan video, dalam jumlah massal dapat diakses dari tiap titik di globe dunia. Ratusan ribu surat kabar dan majalah, jurnal dan hasil riset, universitas, sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan, perusahaan dan lembaga bisnis, sumber-sumber pornografik (dan, ini merupakan sites yang paling sering diakses di internet), organisasi-organisasi kemasyarakatan (mulai dari organisasi pecinta sport, otomotif, organisasi keagamaan hingga organisasi para gay dan lesbi [5]) kini telah on-line di web. Intelek Manusia memerlukan semua data ini, dan kemudian Ia mesti menentukan langkahnya untuk lebih menyempurna, seiring dengan kesempurnaan pengetahuannya.
 Cara berfikir tanpa batas (borderless way of thinking) adalah karakter masyarakat pasca revolusi keempat. Pembatasan fikiran manusia berdasar ras, nasionalisme, kepentingan bisnis dan lain-lain adalah penjara besar bagi kemanusiaan. Tentu cara berfikir yang melampaui batasan-batasan geografis, suku, ras dan agama ini pada gilirannya segera akan menghasilkan kebudayaan tanpa batas (borderless culture) maupun gaya hidup tanpa batas (borderless life-style). Dan timbulnya masyarakat global dunia dengan cara berfikir, gaya hidup dan kultur yang tanpa batas. Secara ekonomis, ini menumbuhkan timbulnya pasar global dan kompetisi global ekonomi dunia, produsen dari mana saja dapat melayani konsumen dan customer dari mana saja, kapan saja. Any time any place global market & global competition
Revolusi pengetahuan manusia di era internet juga menyebabkan lenyapnya batas-batas berbagai industri. [8] Pertemuan berbagai teknologi barui menciptakan tuntutan baru terhadap para manajer dalam perusahaan yang mapan. Integrasi teknologi kimia dengan elektronika dan perangkat lunak (contoh; Eastman Kodak Company), teknologi mekanis dengan elektronika (contoh; Ford Motor Company), teknologi farmasi dengan mode (contoh; Revlon) memaksa para manager untuk tidak saja mencari teknologi baru, namun juga harus berusaha secara aktif mengantisipasi fenomena lenyapnya batas-batas antar teknologi ini. Kebutuhan untuk integrasi dan pengembangan produk dan jasa hibrida ini, seperti Photo CD di Kodak, menciptakan tantangan baru: para manajer harus selalu belajar, beradaptasi dan memanfaatkan proses-proses logika yang berbeda. Sebuah contoh yang paling ekstrim; karena komputer masa depan dapat juga berfungsi sebagai TV, Radio, Faximile, Telephone, Videophone, Pager, kotak pos, dan lain-lain maka seluruh industri TV, Radio, faksimile, telephone, videophone, pager, kantor pos maupun industri komputer akan mulai saling kehilangan batas satu sama lain. [8]
Dalam dunia pendidikan, fenomena lenyapnya batas-batas pertama langsung muncul pada domainnya yang paling fisikal, yakni lenyapnya jarak dalam proses pendidikan. Ini tampak pada  program distance learning (belajar jarak jauh) di berbagai universitas di dunia. Berbagai gelar, baik sarjana, Master maupun Doktor bisa diperoleh tanpa harus mengikuti perkuliahan di universitas yang bersangkutan. Kuliah melalui internet, lengkap dengan seluruh fasilitasnya (termasuk distance laboratory) adalah model kuliah abad-21. Seseorang bisa mengikuti program studi di lima universitas pada lima negara yang berbeda. Negara bagian Oklahoma (di Amerika), misalnya, saat ini telah mempunyai sekolah-sekolah yang state of the art-nya adalah internet. Daerah tersebut telah menginstalasi kabel-kabel serat optis ke tujuh buah sekolah K-12 (baca pula; SD, SMP, SMU). Mereka telah menyelenggarakan fasilitas video konferensi berbasis komputer PC untuk belajar jarak jauh, dan mereka bisa menyelenggarakan pelajaran matematika SMU untuk siswa-siswa SMP. Belajar jarak jauh juga memungkinkan siswa-siswa yang di rumah karena sakit tetap terhubung dengan kelas-kelas mereka  sehingga mereka tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik, walaupun sedang mengaso di rumah karena sakit. [22]
Ketanpabatasan terhadap realitas masyarakat global merupakan satu hal yang secara homogen dapat diperoleh di seluruh titik di dunia dalam segala aspeknya. Maka meminjam istilah Maulana Jalaluddin Rumi [18], bahwa Kekasih Abadi (yakni Tuhan) tidaklah terhalang oleh apapun selain dari diri (baca pula; ego) pecinta; analog dengan itu, realitas ketanpabatasan masyarakat global benar-benar transparan, tidak terhalang oleh apapun selain dari diri (baca pula; sikap kita) sendiri.  Atau dengan kata lain; kemajuan  kemanusiaan yang dijanjikan oleh era tanpa batas tidaklah terhalangi oleh apa pun selain ego dan kebodohan. Sampai kapan kita akan bertahan dengan kejumudan, non-transparansi, birokrasi, stagnasi, berpuas diri, anti perubahan,anti kemajemukan, fanatisme, klanisme dan kejahilan-kejahilan lain?
Paradigma transubstansiasi manusia

Tom Peters, sang mahaguru manajemen dunia, mengatakan “The only constant thing today is change”. “ Satu-satunya hal yang tetap saat ini adalah perubahan.”  P.F. Drucker dalam bukunya Post Capitalist Society [89 menuliskan; “Every organization today has to build into its very structure the management of change”.  “Setiap organisasi saat ini harus membangun ke dalam struktur hakikinya manajemen perubahan.”  Perubahan terus menerus di alam semesta sebenarnya bukanlah merupakan halp aksidental efek ledakan teknologi pada era informasi, tapi ia adalah prinsip transformasi alam secara kontinyui menuju Kesempurnaan, yang oleh Muhammad Sadruddin Shirazi, atau Mulla Sadra [19] disebut sebagai gerakan transubstansiasi. Sebagaimana era pengetahuan atau era informasi adalah hasil dari Gerakan Kemanusiaan menuju kesempurnaan Instinktifnya; yakni masyarakat pengetahuan yang bebas dari semua kejahilan, perubahan terus menerus dalam era pengetahuan adalah akibat prinsip transformasi dan transubstansiasi Kemanusiaan menuju Kesempurnaannya yang hakiki.

            Dalam situasi perubahan-perubahan mega seperti ini, ketika seseorang lepas dari bangku kuliah, ketika itu pula-lah sebagian besar ilmu yang diperolehnya telah obsolete. Sebagai contoh yang sangat sederhana, seseorang mengikuti D1 komputer pada tahun 1994 akhir dan mempelajari seluruh aplikasinya under-Windows 3.1 Microsoft.  Pada saat ia lulus dan memperoleh pekerjaan, semua orang sudah mulai menggunakan Windows 95 . Setahun kemudian browser Netscape Navigator Gold sudah mulai populer, namun dua tahun kemudian trend telah bergeser ke browser Internet Explorer Microsoft dan Windows 97.
            Percepatan teknologi yang semakin lama semakin supra, - misalnya dengan teknologi semikonduktor, bioteknologi, opto-elektronika, dan lain-lain- menjadi suatu sebab material perubahan terus menerus dalam semua interaksi dan aktifitas masyarakat informasi.  Dalam keadaan seperti ini, renewal ability (kemampuan untuk memperbaharui diri) merupakan suatu faktor kunci pendidikan. Siswa tidak lagi mesti “diprogram” dengan hafalan anatomi tubuh manusia ataupun peta buta, ataupun berbagai soal matematika dan fisika; namun aktifasi potensi intelek, akal budi, kebebasan dan kemampuan berakal-budi siswa agar mereka bisa memecahkan berbagai persoalan nyata  harus lebih diutamakan.
            Covey, pengarang Seven Habits of Highly Effective People dan pendiri dari Covey Leadership Center, mengatakan bahwa terdapat beberapa karakteristik pemimpin yang akan sukses dalam menghadapi masa depan, antara lain; mereka belajar terus menerus, mereka berorientasi untuk melayani, mereka meradiasikan energi (kehidupan) yang positif, mereka selalu percaya kepada orang lain, mereka menjalani hidup dengan seimbang, mereka melihat hidup sebagai petualangan, mereka selalu berusaha bersikap sinergi, dan mereka selalu berusaha dan berlatih untuk memperbaharui diri sendiri terus menerus. [6] Siswa yang memiliki karakter ingin memperbaiki dan memperbaharui diri sendiri terus menerus akan menjadi pemimpin masa depan.
            Learning how to learn (belajar bagaimana untuk belajar) nampaknya menjadi suatu paradigma yang cocok bagi pendidikan yang bertujuan renewal ability. Diberikan keadaan yang demikian berubah terus menerus dalam berbagai seginya, bagaimana cara siswa dapat memecahkan suatu masalah yang diberikan dengan memanfaatkan berbagai sumber informasi global yang dapat mereka akses on their finger tip (lewat ujung jari mereka)?
            Walaupun terdapat mega perubahan dalam semua aspek kehidupan, beberapa prinsip alami tertentu seperti halnya; keadilan, keterbukaan, transparansi, fair-ness, kejujuran, kepercayaan (trust), kerendah-hatian (honesty), kesempurnaan, hasrat untuk menyempurna terus menerus, merupakan nilai-nilai yang tak bisa ditawar lagi. Prinsip-prinsip ini merupakan prinsip (adi)-alami yang swa-bukti, jelas dengan sendirinya, dan mendasari seluruh aktifitas manusia dari segala zaman; atas kemauan dan kesadaran ataupun tidak. Kembali menurut Covey, keterkaitan seseorang dengan prinsip-prinsip alami ini adalah kunci keberhasilannya di masa depan. Dan sebaliknya tidak mungkin sukses dalam artian apa pun tanpa mengikuti prinsip-prinsip alami yang swa-bukti ini. [7] Mengenai penyempurnaan segala aspek terus menerus, - yang direalisasikan dalam managemen Jepang sebagai kaizen-, Michael Hammer mengatakan ; “If you think you’re good, you’re dead” “ Jika Anda berpikir Anda baik, maka Anda mati.” [12] Bagaimanakah membuat suatu sistem pendidikan yang tidak membuat siswa yang paling baik berfikir bahwa dirinya “baik” atau “berprestasi” namun mereka tetap memiliki motivasi konsisten untuk memperbaiki dan memperbaharui dirinya ? Bagaimana membuat sistem pendidikan yang dapat menanamkan prinsip-prinsip alami tersebut dalam keadaan masyarakat saat ini? Inilah tantangan terbesar dunia pendidikan nasional saat ini.
            Meminjam istilah Tabataba`i [20] kembalinya manusia ke prinsip-prinsip alami ini, yang merupakan tujuan utama pendidikan dan merupakan sumber dari renewal ability,  adalah kecenderungan realisme instinktif manusia, yang dengannya Tuhan memberinya petunjuk agar memperoleh jalan kesempurnaannya. Di dalam alam fenomenal yang dipenuhi dengan perubahan-perubahan mega, realisme instinktif, yakni, Intelek dan Akal manusia yang utuh dan hasrat untuk memperbaharui diri menuju Kesempurnaan terus menerus merupakan suatu paradigma pendidikan masa depan. Sesungguhnya kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki melewati pendidikan yang benar hanyalah RahmatNya Semata.

Nanar tatap Mu membuat diriku kepayang,
Sejuk misti kedalamannya membuat hidupku membaharu,
Akulah kapal Engkaulah Nahkoda
Arungkah aku dalam Bahari Smara Mu, Bahari Smara Mu

Dan Dia-lah Yang Maha Tahu



Referensi;

1.   Aristotle, Nichomacean Ethics, The Bobbs-Merrill Company, Inc., USA, 1962.
2.   A.M. Branderburger & B. J. Nalebuff, Co-opetition, (Terjemahan), Professional Books, Jakarta, 1997.
3.   D. Burrus, Technotrends,  HarperCollins Publishers, New York,  1993.
4.   R. Beckhard, W. Pritchard, Changing The Essence, Jossey-Bass Publishers, San Fransisco,  1992.
5.   G. Celente, Trends 2000,  (Terjemahan), PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 1997.
6.   S.R. Covey, Principle-Centered Leadership,  Simon & Schuster, New York,  1991.
7.   The Drucker Foundation, The Leader of The Future,  (Terjemahan), PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 1997.
8.   The Drucker Foundation, The Organization of The Future, (Terjemahan), PT. Elex Media Komputiondo, Jakarta, 1997.
9.   P.F. Drucker, Post Capitalist Society,  Butterworth-Heinemann Ltd, Oxford, 1993.
10. W.G. Dyer, Strategies for Managing Change, Addison-Wesley Publising Company, Inc., USA, 1984.
11. W. H. Gates, The Road Ahead, (Terjemahan), Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Pemuda dan Olahraga kantor Menpora RI, DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia, dan PT Infotek Mitrasejati,  Jakarta, 1996.
12. R. Gibson (Editor), Rethinking The Future, Nicholas Brealy Publishing Limited, UK & USA, 1997.
13. J. Goldman, The X Files ; Book of The Unexplaines, Simon & Schuster Ltd., London, 1996.
14. S. Harnad, "Post-Gutenberg Galaxy: The Fourth Revolution in the Means of Production of Knowledge." The Public-Access Computer Systems Review 2, no. 1 (1991): 39-The Guiness Book of Records, Guiness Book of Records (1998), Guiness Publishing,  1997.
15. D. Lundell, Art of War for Traders and Investors, McGraw-Hill,  New York, 1997.
16. K. Ohmae, The Borderless World (Terjemahan),  Binarupa Aksara, Jakarta,  1991.
17. K. Ohmae, The End of The Nation State, Free Press ( A Division of Simon & Schuster Inc.), New York, 1995.
18. J. M. Rumi, Matsnawi-e-Ma’nawi, (English Translation),  Farhangsara Yassavoli.
19. M. Sadra, Al-Hikmah Al-‘Arsyiyyah (English Translation).
20. M.H. Tabataba`I, Inilah Islam, (Terjemahan), Pustaka Hidayah, 1992,
21. A. Toffler & H. Toffler, War and Anti-War, Little, Brown and Company, USA,  1993.
22. Visi-visi Microsoft (http://microsoft.com/corpinfo/2-9empowerment 1901.htm);  2001 Government Technology for the 21st Century White Paper, Januari 1998.

Tidak ada komentar: