Selasa, 13 Maret 2012

Laporan Fisiologi Hewan Air



BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Dalam pengembangan ilmu dunia perikanan budidaya khususnya, maka dianggap penting sebagai seorang kaum pelajar memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang hal tersebut. Salah satu langkah untuk mencapai hal tersebut diadakan praktikum sebagai penunjang dan tempat belajar yang lebih efektif. Selain itu akan bertambah satu pengalaman jika mengikuti semua prosedur kegiatan praktikum. Meskipun pada dasarnya praktikum ini tidak menjamin sepenuhnya untuk kami menguasai materi/teori, begitu pula keadaan yang ada dilapangan.
Selain itu, untuk mengikuti ujian akhir semester, sebagai salah satu syarat ialah laporan dan presentase kehadiran yang harus mencukupi dari standar yang telah ditetapkan oleh jurusan Budidaya Perikanan.

2.     TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan diadakannya praktikum ini yaitu untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa tentang teknis
dan teknik budidaya perikanan terutama dalam penanganan kualitas air dan parameter lingkungan lainnya yang terkait dalam praktikum ini.
Kegunaan dari praktikum Fisiologi Hewan Air ini yaitu dapat menambah wawasan, pengetahuan dan informasi seputar teknis pemeliharaan kualitas air dan parameter yang sebaiknya untuk organism budidaya. Serta menjadi bekal mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja dan terjun langsung didalamnya.





BAB II
METODOLOGI
1.      WAKTU DAN TEMPAT
Praktek laboratorium ini dilaksanakan pada hari Rabu pukul 08.00 Wita sampai selesai, bulan Januari 2012 di laboratorium Biologi jurusan Budidaya Perikanan Politekni Pertanian Negeri Pangkep, Desa Mandalle, Kabupaten Pangkep, propinsi Sulawesi Selatan

2.     METODE PELAKSANAAN
a.       Alat                                                     b. Bahan
-          Wadah/toples 2 buah                          - Ikan Nila ukuran kecil dan besar masing-masing
-          DO meter                                              10:5 ekor
-          Testkit                                                 - Air tawar
-          Timbangan Digital                              - Almunium Voil

Prosedur Kerja:
Ø  Persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
Ø  Kemudian masukkan air tawar pada masing-masing wadah yang telah dibersihkan dan disterilisasi
Ø  Lakukan pengukuran O2 dan CO2 awal pada masing-masing media.
Ø  Setelah itu, timbang berat biomassa ikan, kemudian dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.
Ø  Wadah/toples ditutup rapat dengan almunium voil agar tidak terkontaminasi dengan lingkungan luar.
Ø  ikan yang telah dimasukkan dalam wadah, dibiarkan selama 24 jam sebelum dilakukan pengukuran kembali.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
Berikut adalah tabel hasil pengamatan dan pengukuran dari praktikum yang telah kami lakukan.
Tabel 1. Pengukuran parameter awal.
No
Organisme Pengamatan
Parameter
Berat Biomassa
Kandungan Oksigen
1
Ikan Nila (ukuran besar)
261 gr (5 ekor)
4,2 ppm
2
Ikan Nila (ukuran kecil)
264 gr (10 ekor)
4,30 ppm

Tabel 2. Pengukuran parameter akhir.
No
Organisme Pengamatan
Parameter
Berat Biomassa
Kandungan Oksigen
1
Ikan Nila (ukuran besar)
16,22 gr (1 ekor)
0,14 ppm
2
Ikan Nila (ukuran kecil)
8,05 gr (2 ekor)
0,43 ppm



B.     PEMBAHASAN
Praktikum kali ini dilakukan untuk mengetahui besarnya konsumsi oksigen pada ikan. Ikan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ikan nila putih. Ikan nila putih merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih danwarna putih. Ikan nila putih berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila putih tidak dapat hidup baik.(Wikipedia, 2009)Ikan merupakan organisme akuatik yang berespirasi menggunakan insang dan menghasilkan oksigen untuk proses tersebut. Oksigen merupakan unsur organik terlarut dalam perairan. Oksigen merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan metabolisme ikan. Perairan yang sedikit mengandung oksigen terlarut tidak baik bagi pertumbuhan ikan karena akan mempengaruhi kecepatan makan atau laju metabolisme ikan(Asmawi, 1983). Oksigen diperlukan ikan dalam proses metabolisme aerobik. Menurut Julian (2003), konsumsi oksigen merupakan pengkuantitatifan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh suatu orgnisme (ikan). Konsumsi oksigen pada ikan digunakan sebagai parameter laju metabolisme pada ikan dalam satuan mg/g/jam. Metode yangdigunakan untuk mengetahui kadar oksigen terlarut untuk mengetahui KO2 pada ikan nila putih adalah metode Winkler. Metode Winkler digunakan dengan cara titrasi larutan air yangmengandung oksigen. Menurut Lagler (1997), semakin besar kadar oksigen terlarut semakin besar pula konsumsi oksigennya. Prinsip metode Winkler yaitu jika air mengandung oksigenterlarut, Mn(OH2) bereaksi dan dioksidasi menjadi H2MnO3.
Berdasarkan hasil tersebut terlihat adanya hubungan antara bobot tubuh, volume tubuh ikan,dan konsumsi oksigen yang dibutuhkan ikan. Semakin besar bobot dan volume tubuh ikansemakin kecil konsumsi oksigen yang digunakan ikan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Boon dan Zonneveld (1991). Ikan berbadan kecil lebih banyak beraktivitas dibandingkan ikan berbadan besar, sehingga konsumsi oksigennya lebih besar (Julian, 2003). Sedangkan ikan sendiri akan tumbuh dan berkembang biak pada perairan yang memiliki kisaran oksigen terlarut di dalamnya antara 5 - 7 ppm (Soesanto,1987).Menurut Hurkat (1976), konsumsi oksigen pada hewan dipengaruhi oleh beberapafaktor yaitu aktivitas tubuh, ukuran tubuh, tinggi badan, umur, dan berat badan. Schmidt dan Nielson (1990) menyatakan bahwa nilai konsumsi oksigen per gram berat tubuh menurundengan meningkatnya ukuran tubuh. Ikan kecil cenderung lebih aktif beergerak sehinggamembutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan ikan besar (Sudibyo, 1999). Jadi,semakin besar volume ikan menyebabkan semakin kecil pula konsumsi oksigennya. Padaikan yang aktif berenang mempunyai insang yang lebih lebar sehingga kebutuhan oksigennyadapat terpenuhi tanpa harus mengganggu aktivitasnya (Ville, 1988). Penurunan aktivitas ikanakan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh sehingga konsumsi oksigen akan mengalami penurunan pula (Tjasyono, 1987).Dalam suatu perairan kadar oksigen terlarut di dalamnya dapat diestimasi denganmengetahui tingkat kepadatannya. Semakin tinggi kepadatan suatu perairan, maka tingkatkadar oksigen terlarutnya akan semakin rendah (Gordon, 1972). Volume tubuh ikan juga akan mempengaruhi konsumsi oksigen, semakin besar volume tubuh ikan semakin rendah kadar oksigen yang dibutuhkan dalam tubuh ikan (Zonneveld, 1991).Salah satu faktor lain yang mempengaruhi konsumsi oksigen adalah suhu. Gordon(1972) mengatakan pengaruh lingkungan terhadap konsumsi oksigen dapat berbeda,temperatur perairan juga mempengaruhi metabolisme ikan. Dalam temperatur yang tinggiterjadi juga peningkatan metabolisme dalam tubuh ikan dan hal tersebut akan mengakibatkankonsumsi oksigen yang dibutuhkan semakin banyak.Pada peningkatan metabolisme ikan akan sebanding dengan peningkatan temperatur.Pada umumnya, kenaikan temperatur sebesar 100C pada perairan akan menyebabkan peningkatan metabolisme dan konsumsi oksigen dua sampai tiga kali dari biasanya (Schmidt,1990).Lingkungan juga mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan. Konsumsi oksigen dapatdipengaruhi oleh temperatur yang tinggi, proses respirasi, dekomposisi materil organic yangdapat menyebabkan konsumsi oksigen lebih besar (Welch, 1992). Menurut Suhaili (1983)suhu dan arus air juga mempengaruhi konsumsi oksigen. Semakin tinggi suhu perairansemakin besar konsumsi oksigennya, begitu pula dengan arus yang deras dapat menyebabkan besarnya konsumsi oksigen. Percobaan yang dilakukan Franklin et al (1994) pada Oreochromis alcalicus graham menyebutkan bahwa peningkatan temperature dari 370C menjadi 420C secara signifikan menaikkan rata-rata konsumsi oksigen pada ikan yaitu dari0,739 menjadi 0,970 ml/g/jam.Laju metabolisme berbanding terbalik dengan konsentrasi oksigen terlarut. Padakonsentrasi oksigen rendah dan temperatur meningkat, maka laju metabolisme meningkat,sedangkan bila konsentrasi oksigen tinggi pada temperature rendah, maka laju metabolisme juga rendah (Julian et al., 2003). Konsentrasi oksigen yang baik yang dikonsumsi ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Ikan masih dapat bertahan hidup pada perairan dengankonsentrasi oksigen di bawah 4 ppm, namun nafsu makannya rendah atau tidak ada samasekali sehingga pertumbuhannya terhambat. Ikan akan mati atau mengalami stress bilakonsentrasi oksigen terlarut mencapai nol (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Oksigen terlarutdalam jumlah banyak dalam perairan juga tidak baik bagi pertumbuhan ikan. Oksigen terlarutdalam jumlah banyak dapat mematikan ikan karena dalam pembuluh ikan terjadi akumulasigas yang dapat mengakibatkan tertutupnya pembuluh rambut pada insang ikan
















BAB IV
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Dari hasil praktikum pengukuran konsumsi oksigen iakn dapat disimpulkan bahwa:
1. Perairan dengan kandungan oksigen di dalamnya 5 - 7 ppm merupakan perairan yang idealserta dapat mencukupi kebutuhan konsumsi oksigen ikan.
2. Semakin bertambah bobot dan umur ikan, maka konsumsi oksigen akan berkurang karenaaktivtas tubuhnya yang terbatas.
3.  Pengukuran konsumsi oksigen dapat mengetahui laju metabolisme ikan.

B.   SARAN
Tidak banyak hal yang menjadi penghalang bagi kami selama mengikuti praktikum ini, namun saja dalam pengambilan data belum terlalu lengkap karena beberapa parameter yang berkaitan tidak sempat dituliskan dan dicantumkan dala laporan ini. Sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Dan mudah-mudahan telah kami lakukan sesuai dengan jalur prosedur yang semestinya. Kepada teman-teman yang lain juga agar kiranya lebih memperhatikan penjelasan prosedur kerja agar tidak terjadi kesalahan kembali, itupun memang jika ada.

Tidak ada komentar: