Jumat, 23 Maret 2012

Hormon Dari Luar dan Injeksi

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN HORMON DARI LUAR
Hormon merupakan suatu senyawa yang ekskresikan oleh kelenjar endokrin,dimana kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran (Zairin,2002). Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagleret al. (1962) dalam Gusrina(2008) terdapat beberapa organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus, jaringanginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus, thyroid,ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue of gonads danurohypophysis.Beberapa hormon sangat berperan dalam proses reproduksi ikan , selainhormon primer dan sekunder yang terdapat dalam tubuh ikan adapula hormon luar(sintesis) yang dapat mempengaruhi proses pematangan gonad ikan. Hormon Luaradalah suatu senyawa sintetik yang berfungsi untuk menginduksi terjadinya ovulasi.

B.     PERANAN HORMON LUAR DALAM PROSES REPRODUKSI IKAN
Reproduksi merupakan kemampuan indivudu untuk menghasilkan keturunansebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. System reproduksitersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan berinteraksi dengan kondisilingkungan. Sumantadinata (1997) mengatakan bahwa reproduksi ikan dikendalikanoleh tiga sumbu utama, yaitu hipotalaums, hipofisa, dan gonad. Secara alami, systemkeja reproduksi ikan dimulai dari keadaan lingkungan seperti suhu, cahaya, dan cuacayang diterima oleh organ
perasa dan meneruskannya ke system saraf. Selanjutnya,hipotalamus melepasakan GnRH (gonadotropin releasing hormon) yang bekerjamerangsang kelenjar hipofisa untuk melepaskan GtH (gonadotropin). Gonadotropinakan berfungsi dalam perkembangan dan pematangan gonad serta pemijahan.
Dalam proses reproduksi ikan terkadang ikan tidak dapat matang secarasempurna dan memijah di dalam wadah pemeliharaan, oleh karena itu dapatdiupayakan dengan melakukan pendekatan hormonal atau dengan menggunakanhormon sintetik (luar) untuk menginduksi terjadinya ovulasi. Selain dapatmenginduksi terjadinya ovulasi hormon ini juga dapat digunakan untuk kulturmonoseks dan meransang pertumbuhan.
Sumantadinata (1997) mengatakan bahwa pada ikan terdapat dua hormongonadotropin yang berbeda secara kimiawi. Hormon tersebut adalah gonadotropin Idan gonadotropin II. Gonadotropin I berperan dalam perkembangan gonad, sedangkangonadotropin II berperan dalam pematangan gonad dan pemijahan. Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manipulasi hormon untuk kegaiatan pemihajandapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan hipoisa dan pendekatanhipotalamus. Pendekatan hipofisa berperan untuk memacu ovulasi dan pemijahan. Pada kegiatan pemijahan, pendekatan induk ikan sudah matang gonad. Induk matanggonad tersebut disuntik dengan hormon kelenjar hipofisa atau hormon perangsanglainnya, seperti ovaprim, choluron, dan sebagainya. Sedangkan pendekatanhipotalamus berperan memacu vitelogenesis pada awal perkembangan gonad sampaifase dorman dan merangsang pemijahan. Pada pendekatan ini, induk ikan dewasadiimplantasi hormon. Implantasi hormon kedalam tubuh induk ikan bertujuan untuk menyediakan hormon dalam pembentukan dan perkembangan gonad. Sumantadinata(1997) menyebutkan bahwa pada proses perkembangan gonad membutuhkanketersediaan gonadotropin secara terus menerus. Dengan implantasi hormon LHRH-a(estradiol) dan 17α-methhyl testoteron, gonad ikan banding dapat berkembang biak dan memijah didalam tangki serat gelas volume 30 m3.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jenis-jenis hormon luar
·         LHRA-a
·         HCG
·         GnRH ( SGnRHa dan PREGNYL)
·         17-a-methyltestosteron
·         Feromon
·         Kelenjar hipofisa
·         Dll

B.     PERANAN HORMON LUAR
1.      Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisa adalah kelenjar yang menghasilkan berbagai hormon,antara hormon yang berkerja terhadap kelenjar kelamin jantan (testes) Maupunkelenjar kelamin betina (kantong telur).Kelenjar hipofisa ini terletak disebelahbawah bagian depan otak besar (dienchephala) sehingga jika bagian otak inidiangkat maka kelenjar ini akan tertinggal. Dengan demikian, untuk mengambil kelenjar hipofisa maka tulang tengkorak harus di angkat terlebihdahulu.
ü  Kelabihan dan kekurangan hipofisa
Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpandalam waktu lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkanrefrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berattubuh donor dan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon hormonlain yang memiliki sifat sinergik.
Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinanterjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jikadonor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinanpenularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akanmerubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin.
Dari beberapa penelitian mengenai hipofisasi didapatkan bahwadengan dosis rendah, 1 mg hipofisa ikan mas per kg berat badan resipien dapatmenginduksi pematangan telur tetapi tidak menyebabkan ovulasi pada goldenperch, maquaria ambigua. Sedangkan dengan dosis tinggi,15 mg/kg menyebabkan penurunan kemampuan menetas ibanding dengan 10 mg/kgdengan kemampuan menginduksi ovulasi adalah 100%.

2.      LHRH (Luteinizing Hormone-Releasing Hormone)
LHRH (luteinizing hormon releasing hormon) adalah hormon darigolongan protein yang dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini molekulnyasagat kecil dibandingkan dengan hormon golongan lainnya, yakni terdiri dari10 asam amino (dekapeptida). LHRH sebanarnya sama persis dengan GnRH.Karena LHRH waktu paruhnya pendek sehingga mudah terurai dari dalamtubuh maka para ahli menciptakan LHRH sintesis yang lebih tahan. LHRH jenis ini sering dikenal dengan LHRH-analog (LHRH-a). jika hormon yangdigunakan adalah LHRH, berarti manipulasi yang dilakukan berada padatingkat hipofisa.
LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahan ikanmas, sidat,salmon, sturgeon, dan lain-lain (Lam, 1985). Di Indonesiapemakaian LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahanikan bandeng. Penggunaan LHRH-A pada ikan tidak saja melalui penyuntikantetapi juga dengan implantasi menggunakan pellet cholesterol atau implantsilicone rubber. Dengan teknik ini dapat mensuplai LHRH-A dalam waktulama tanpa penanganan berulang-ulang pada ikan dan memungkinkan induksipematangan gonad dan pemijahan yang lebih cepat.

3.      17-a-methyltestosteron
Aplikasi hormone ini untuk menjantankan atau membetinakan semuabenih ikan yang akan dibudidayakan, telah dilakukan pada beberapa jenisikan, antara lain ikan mujair, karper, mas koki, dan lain-lain. Caranya denganmenambahkan metiltestosteron pada pakan dengan dosis 15-60 mg/kg pakandapat menghasilkan 100% jantan. Sedangkan untuk membetinakan benihdapat dilakukan dengan penambahan hormone-hormon estrogenic, sepertiestron, estriol, estradiol. Namun hasil yang dicapai tidak segemilangmenjantankan benih.
Hormone ini juga digunakan untuk meningkatkan laju pertumbuhanmelalui aplikasi hormone, juga telah banyak dilakukan,yakni denganmeningkatkan nilai konversi makanan. McBride dan Fegerlund (1973 dalamMatty,1985), telah berhasil menggunakan methyltestosteron untuk mempercepat pertumbuhan juvenile ikan salmon.
Selain mencampur metiltestosteron dalam pakan, aplikasi hormondapat juga dilakukan dengan cara merendam telur pada fase bintik mata ataumerendam induk pada masa untuk ikan vivipar. Waktu perlakuan inidisesuaikan dengan masa diferensiasi gonad. Bila gonad telah berdiferensiasi menjadi ovary atau testis, maka perlakuan tersebut tidak akan memberi hasilsesuai yang diharapkan.

4.      Feromon
Feromon adalah bahan kimia disekresi dan disampaikan ke reseptorpembau dengan reaksi yang spesifik. Fungsi feromon ikan dapat dibagi tiga,yakni:
(1) sebagai alarm dan pengenalan spesies,
(2) untuk pengenalan seksdan perubahan tingkah laku seksual,
(3) untuk pengenalan wilayah

Penganalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual :
Teleostei dan beberapa elasmobranch melakukan komunikasi dengansinyal kimia untuk mengontrol fertilitas, koordinasi seksual, dankoordinasitingkah laku seksual. Pada beberapa spesies, ikan jantan tertarik untuk berintegrasi dengan betina melalui bau. Steroid seks merupakan salah satubahan kimia yang secara spontan membangkitkan afinitas elektrik organolfaktori. Pada ikan mas misalnya, jantan dewasa dapat membedakan ikanbetina matang gonad melalui feromon yang terkandung dalam cairan ovaryyang dilepaskan sesaat setelah ovulasi.Substansi daya tarik dari gonad umumnya bersumber dari feromonseks yang terlarut dalam air. Ikan guppy (Poecilia reticulate) jantan tertarik pada air yang sebelumnya ditempati betina, terutama oleh betina yang sedangbunting. Feromon seks juga menyebabkan sinkronisasi pelepasan sperma dari jantan dan telur dari betina ikan karper (Cyprinus carpio) sehingga pembuahandapat terjadi secara efektif.

5.      Ovaprim
Ovaprim adalah merek dagang bagi hormone analog yang mengandung20µg analog salmon gonadotropin releasing hormone (sGnRH) LHRH dan10µg domperidone sejenis anti dopamin, per milliliter (Nandeesha et al, 1990).
Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah, kandungan sGnRHa akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti dopamin menghambathipotalamus dalam mensekresi dopamin yang memerintahkan pituatarimenghentikan sekresi GtH I dan GtH II.Kegunaan Ovaprim antara lain :
Ø menekan musim pemijahan
Ø mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal
Ø merangsang produksi sperma pada jantan untuk periode waktu yang lamadan volume yang lebih banyak.
Ø Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan.
Ø Memaksimalkan potensi reproduksi
Ø Mempertahankan materi genetic pada beberapa ikan yang terancam punah
Ø Mempersingkat periode pemijahan.

6.      HCG
HCG juga berperan dalam memacu terjadinya ovulasi, seperti padaikanGoldfish, penyuntikan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) akanmenyebabkan sintesis indomethanin (prostaglandin inhibitor) terhambatsehinggaProstaglandin dapat mendorong ovulasi ikan trout pelangi dan Goldfish.Prostaglandin berperan penting dalam menstimulasi ovulasi ikan teleostei padatahap akhir. (Jalabert dan Szollosi, 1975 dalam Stacey, 1984).


C.     MEKANISME KERJA HORMON LUAR
Perangsangan pemijahan ikan secara hormonal dilakukan dengan menyuntikanhormon tertentu kedalam ke tubuih ikan. Hormon tersebut masuk ke dalam sistemsirkulasi darah ikan dan ketika mencapai organ target (Gonad) langsung berkerja danmempengaruhi organ tersebut. Dengan demikian, perangsangan pemijahan secarahormonal ini merupakan upaya by pass cara kerja hormon dalam sistem reproduksi ikan.


A.    APLIKASI HORMON SINTETIK DALAM REPRODUKSI IKAN
ü  Metode Injeksi
Teknik penyuntikan hormon pada ikan ada 3 yaitu intra muscular(penyuntikan kedalam otot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut),dan intra cranial (penyuntikan di kepala) (Susanto, 1999). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan adalah intra muscular,karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting bagi ikan dalammelakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebihtinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk (2001) secaraintra muscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirippunggung ikan.
ü  Metode implantasi
O Menggunakan pellet kolesterol, atau
O Menggunakan implan silikon rubber
ü  Melalui Pakan
ü  Melalui Perendaman


BAB III
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan diatas adalah :
1.      Hormon luar sangat berperan penting dalam proses reproduksi ikan karena :
ü  Memijahkan ikan yang sistem saraf pusatnya sulit dipengaruhi oleh sinyallingkungan atau kalaupun bisa pembangkitan sinyal lingkungan tersebut sulit danmahal serta belum diketahuinya sinyal lingkungan yang bisa mempengaruhisistem saraf pusat ikan tersebut.
ü  Memijahkan ikan diluar musim pemijahannya (out season), terutama pada ikanyang mengenal musim pemijahan tertentu.2.

2.      beberapa jenis hormon luar yaitu :
ü  LHRH-a
ü  HCG
ü  GnRH ( SGnRHa dan PREGNYL)
ü  17-a-methyltestosteron
ü  Feromon
ü  Kelenjar Hipofisa
ü  Dll.



DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan; Pencernaan. PAU Ilmu Hayat IPB. 215

Ellis, A.E. 1988. Fish Vaccination. Academic

Tidak ada komentar: